Syirik dalam Niat dan Tujuan

Syirik dalam Niat dan Tujuan
(Bentuk-bentuk Syirik Kecil Bagian Ketiga)

Bismillah…

Syirik ini juga disebut syirik khafi (samar), dan jenis ini ada dua macam :

 

#1 : Riya’

Diambil dari kata ru’yah (melihat), maksudnya adalah memperlihatkan ibadah, agar manusia melihatnya lalu memuji hal tersebut. Beda antara riya’ dan sum’ah adalah riya’ berkaitan dengan penglihatan sedangkan sum’ah berkenaan dengan pendengaran.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata bahwa sebagaimana Allah itu Esa, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain-Nya, maka ibadah hanya patut diberikan kepada-Nya semata. Dan amal shalih adalah amal yang bersih dari riya’ yang ditentukan caranya oleh as-Sunnah.

Riya termasuk sifat kaum munafik dan mendapatkan mendapatkan ancaman langsung dari Allah Ta’ala dengan kecelakaan (wail).

Ibnu Rajab radhiyallaahu ‘anhu berkata, bahwa beramal untuk selain Allah terbagi menjadi beberapa bentuk :

  1. Pertama : riya murni, tujuannya hanya penglihatan manusia untuk tujuan dunia. Riya ini mungkin terjadi dalam amal-amal lahir dan yang manfaatnya menyebar kepada orang lain, keikhlasan padanya berat.

  2. Kedua : amal perbuatan karena Allah Ta’ala, tetapi diiringi riya. Bila diiringi dari dasarnya, maka amalnya batal dan tidak diterima. Adapun bila dasarnya, amal itu karena Allah, lalu niat riya datang menyusup, dia berusaha menepisnya, maka ia tidak berdampak buruk namun bila ia membiarkannya as-Salaf berbeda pendapat. Imam Ahmad dan Ibnu Jarir menyebutkan bahwa amalnya tidak batal dengan itu, dan bahwa dia akan diberi balasan dengan niatnya yang pertama.

Oleh karenanya, hendaknya kita menjaga amal dari syirik lebih daripada menjaga diri dari musuh, daripada menjaga harta dari pencuri, sebab bahaya syirik itu berat.

 

#2 : Beramal Demi Dunia

Beramal untuk dunia termasuk ke dalam syirik niat dan tujuan. Maksudnya adalah seseorang melakukan satu amal yang sepatutnya diniatkan mencari wajah Allah, tetapi dia melakukannya demi satu tujuan dunia.

Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ . أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud : 15-16)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah mengutip beberapa perkataan salaf terkait makna ayat ini, di antaranya :

  1. Pertama, Amal shalih yang dilakukan oleh banyak orang dalam rangka mencari wajah Allah, tetapi ia tidak menginginkan balasan di akhirat dan hanya ingin Allah membalasnya dengan menjaga hartanya, mengembangkannya, atau menjaga keluarga dan anak-anaknya. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa orang seperti ini tidak akan mendapatkan bagian di akhirat.

  2. Kedua, Mujahid rahimahullah menyebutkan bahwa ayat ini berkaitan dengan orang yang beramal shalih dengan niat riya’ bukan mencari pahala akhirat.

  3. Ketiga, melakukan amal shalih dengan tujuan mendapatkan harta.

  4. Keempat, beramal shalih dengan ikhlas karena Allah Ta’ala semata, tetapi ia juga melakukan amal yang menjerumuskannya ke dalam kekafiran dengan kufur besar, yang mengeluarkannya dari Islam. Makna ini disebutkan oleh Anas bin Malik dan lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menambahkan bahwa hal ini pun berkaitan dengan pencari harta. Harta memperbudak dan menghambakannya. Perkara ini terbagi menjadi dua :

  • Pertama, sesuatu yang dibutuhkan oleh hamba. Hamba memohonnya kepada Allah dan memintanya kepada Allah, harta ada di tangannya, dan dia menggunakannya untuk keperluannya, tanpa memperbudaknya.

  • Kedua, sesuatu yang tidak dibutuhkan hamba, untuk yang ini, seorang hamba tidak patut menggantungkan hati dengannya. Karena bisa termasuk ke dalam golongan orang yang digambarkan Rasulullah ﷺ :

تَعِسَ عَبْدُ الدِّنَارِ، تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ

“Celaka hamba dinar, celaka hamba dirham, celaka hamba pakaian halus, celaka hamba selimut tebal. yang jika diberi dia rela, dan jika tidak diberi dia murka. Celaka dan gagal, dan bila dia tertusuk duri, semoga dia tak kuasa mencabutnya.” [HR. Al-Bukhari (no. 2886, 2887, 6435) dan Ibnu Majah (no. 4136). Lihat ‘Aqii-datut Tauhiid (hal. 78-79), oleh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan]

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullaah menambahkan bahwa termasuk budak harta di zaman sekarang adalah orang yang melakukan transaksi haram dan praktik buruk terdorong cinta harta seperti suap, judi, menipu dalam jual beli.

•═◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═•
📖Disarikan oleh Ustadz Rian Abu Rabbany hafizhahullah dari kitab Panduan Lengkap Membenahi Akidah Karya Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullaah
•═◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═•

***

Demikianlah artikel yang membahas tentang bentuk syirik kecil bagian ketiga, yakni syirik dalam niat dan tujuan. Semoga Allah senantiasa membimbing dan menunjukkan kita kepada kebenaran, serta memberikan taufik kepada kita untuk mengetahui ilmu tentang syari’at agama Islam, sehingga mengetahui tentang berbagai perkara yang dibolehkan untuk kita amalkan, serta memahami tentang berbagai perkara yang dilarang agar bisa kita hindari dan jauhi.

Dapatkan berbagai informasi lainnya mengenai artikel islami, poster nasihat, info kajian sunnah Bandung serta kesempatan untuk melakukan tanya jawab di .

Dapatkan kebaikan dengan share artikel ini kepada keluarga, sahabat, teman dan kenalan Anda. Rekomendasikan juga website KajianSunnahBandung.Web.Id agar semakin banyak orang yang mendapatkan faidah dan kebaikan melalui wasilah Antum. Insya Allah…

Barakallahu fiikum..

Dapatkan kebaikan dengan share artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *