DUA MACAM SABAR – SAAT DITIMPA MUSIBAH & SAAT MENJAUHI MAKSIAT
Bismillah, No. Artikel: 05/V/2026
DUA MACAM SABAR
SAAT DITIMPA MUSIBAH & SAAT MENJAUHI MAKSIAT
Maimun bin Mihran rahimahullah berkata,
“Sabar itu ada dua macam: sabar ketika tertimpa musibah ini adalah baik, dan yang lebih utama dari itu sabar ketika menjauhi maksiat.” [Mausu’ah karya Ibnu Abi ad-Dunya]
Perkataan ini mengajarkan bahwa sabar bukan hanya ketika seseorang kehilangan sesuatu, sakit, tertimpa ujian, atau menghadapi keadaan yang tidak menyenangkan. Itu memang sabar yang mulia. Namun ada bentuk sabar lain yang lebih berat dan lebih utama, yaitu sabar menahan diri dari maksiat.
Mengapa sabar menjauhi maksiat lebih utama? Karena maksiat sering datang bersama dorongan hawa nafsu. Kadang maksiat tampak menyenangkan, mudah dilakukan, bahkan terbuka kesempatan tanpa ada manusia yang melihat.
Pada saat itulah kesabaran benar-benar diuji. Seseorang harus menahan diri bukan karena tidak mampu bermaksiat, tetapi karena takut kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Adapun orang yang takut kepada kedudukan Rabb-nya dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.” [QS. An-Nazi’at: 40–41]
Ayat ini menunjukkan bahwa menahan hawa nafsu adalah jalan menuju surga. Bukan berarti seseorang tidak punya keinginan buruk sama sekali, tetapi ia berjuang menundukkannya karena sadar bahwa Allah melihat dirinya.
Allah juga berfirman tentang besarnya pahala orang-orang yang sabar:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas.” [QS. Az-Zumar: 10]
Sabar ketika tertimpa musibah adalah dengan menahan lisan dari keluhan yang menunjukkan tidak ridha, menahan hati dari buruk sangka kepada Allah, dan menahan anggota badan dari perbuatan yang dilarang, seperti meratap berlebihan atau marah kepada takdir. Seorang mukmin tetap boleh sedih, menangis, dan merasa berat, tetapi ia tidak boleh protes kepada Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى
“Sesungguhnya sabar itu pada hentakan pertama.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Maksudnya, kesabaran yang paling jelas terlihat adalah ketika musibah baru datang. Saat itu hati masih terguncang, emosi masih kuat, dan lisan mudah tergelincir. Bila seseorang mampu menahan diri di saat pertama, itu tanda taufik dari Allah.
Adapun sabar menjauhi maksiat membutuhkan latihan terus-menerus. Misalnya sabar menahan mata dari yang haram, sabar menahan lisan dari ghibah, sabar menahan tangan dari mengambil yang bukan haknya, sabar menahan hati dari hasad, dan sabar meninggalkan pergaulan yang menyeret kepada dosa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَن يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَن يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَن يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ
“Barang siapa berusaha menjaga kehormatan dirinya, Allah akan menjaganya. Barang siapa merasa cukup, Allah akan mencukupkannya. Dan barang siapa berusaha sabar, Allah akan menjadikannya sabar.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Hadits ini memberi harapan besar. Sabar bukan hanya sifat bawaan, tetapi bisa dilatih. Orang yang terus berusaha menahan diri karena Allah, akan Allah bantu untuk menjadi lebih kuat.
Para ulama salaf sangat memperhatikan sabar dari maksiat karena mereka memahami bahwa dosa bisa merusak hati secara perlahan. Musibah dunia mungkin menyakitkan, tetapi jika dihadapi dengan iman, ia bisa menghapus dosa dan mengangkat derajat. Adapun maksiat, bila terus diikuti, bisa menggelapkan hati dan menjauhkan seseorang dari Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, sabar bisa diamalkan dengan beberapa cara sederhana. Ketika musibah datang, ucapkan istirja’:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.”
Kemudian tahan lisan, perbanyak doa, dan yakin bahwa Allah tidak menakdirkan sesuatu kecuali dengan hikmah. Ketika datang godaan maksiat, segera ingat pengawasan Allah, menjauh dari sebab-sebab dosa, mencari teman yang baik, memperbanyak dzikir, dan menyibukkan diri dengan kebaikan.
Ikhtisar
Sabar ada dua macam:
- Sabar ketika tertimpa musibah, dan
- Sabar ketika menjauhi maksiat.
Keduanya mulia, tetapi sabar meninggalkan maksiat lebih berat karena harus melawan hawa nafsu dan godaan yang sering terasa menyenangkan.
Seorang muslim hendaknya melatih sabar dengan menjaga hati, lisan, mata, tangan, dan langkahnya agar tetap berada dalam ketaatan kepada Allah.
Referensi
- Ibnu Abi ad-Dunya, Mausu’ah Rasa’il Ibni Abi ad-Dunya, pembahasan tentang sabar,
- Al-Qur’an, QS. An-Nazi’at: 40–41,
- Al-Qur’an, QS. Az-Zumar: 10,
- HR. Al-Bukhari dan Muslim: “Sesungguhnya sabar itu pada hentakan pertama”,
- HR. Al-Bukhari dan Muslim: “Barang siapa berusaha sabar, Allah akan menjadikannya sabar”.









Post Comment