Sabar dan Kedudukannya dalam Akidah (bagian 1)

Sabar dan Kedudukannya dalam Akidah
(Bagian Pertama)

Bismillah…

Telah kita bahas pada kajian sebelumnya bahwa sikap yang wajib dilakukan saat mendapatkan musibah adalah sabar dan berharap pahala dari Allah Ta’ala.

Di antara bukti keutamaan sikap sabar dalam agama Islam, Imam Ahmad rahimahullah dalam Uddah ash-Shabirin berkata, “Allah menyebutkan sabar pada 90 ayat dalam kitab-Nya.

Ali radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

إِنَّ الصَّبْرَ مِنَ الإيْمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ، ثُمَّ رَفَعَ صَوْتَهُ وَقَالَ أَلَا إِنَّهُ لَا إِيْمَانَ لِمَنْ لَا صَبْرَ لَهُ

“Sesungguhnya kedudukan sabar dari iman adalah seperti kedudukan kepala dari tubuh” Kemudian beliau meninggikan suaranya dan berkata, “Ketahuilah bahwa tidak ada iman bagi yang tidak punya sabar.” (HR. Al-Baihaqi)

Sabar diambil dari kata shabara yang artinya adalah menahan dan mencegah. Sabar menahan diri dari gundah, menahan lidah dari mengadu (mengeluh) dan amarah, serta menahan anggota tubuh dari menampar pipi dan merobek baju.

Sabar ada tiga :

  • Pertama, sabar dalam menjalankan perintah Allah;

  • Kedua, sabar dalam menjauhi larangan Allah;

  • Ketiga, sabar dalam menerima musibah-musibah yang Allah takdirkan.

Allah Ta’ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)

Alqamah berkata bahwa maksud ayat tersebut, bila seseorang ditimpa musibah dia mengetahui bahwa ia dari sisi Allah maka dia ridha dan menerima.

Yang lain berkata tentang makna ayat ini, ‘Siapa yang ditimpa musibah, dia mengetahui bahwa ia dengan selain tahu ia adalah takdir Allah, ia bersabar, berharap pahala dari Allah, menerima Qadha Allah, maka Allah Ta’ala membimbing hatinya, mengganti apa yang hilang darinya dari karunia dengan hidayah, keyakinan dan kebenaran dalam hatinya, dan bisa jadi Allah memberinya ganti apa yang Dia ambil darinya.’

Bahkan Sa’id bin Jubair rahimahullah menjelaskan bahwa maksud Allah Ta’ala memberi petunjuk kepada hatinya adalah dengan mengucapkan kalimat istirja’.

•═◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═•
📖 Disarikan oleh Ustadz Rian Abu Rabbany dari kitab Panduan Lengkap Membenahi Akidah Karya Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullaah
•═◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═•

***

Demikianlah artikel yang membahas tentang sabar dan kedudukannya dalam Akidah (bagian 1), sebagaimana yang diterangkan oleh dalil-dalil yang shahih.

Semoga Allah senantiasa membimbing dan menunjukkan kita kepada kebenaran, serta memberikan taufik kepada kita untuk mengetahui ilmu tentang syari’at agama Islam untuk kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bisa menghadirkan keberkahan dan kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, aamiin ya Rabbal ‘alamin…

Dapatkan berbagai informasi lainnya mengenai artikel islami, poster nasihat, info kajian sunnah Bandung serta kesempatan untuk melakukan tanya jawab di grup WA Kajian Sunnah Bandung.

Dapatkan kebaikan dengan share artikel ini kepada keluarga, sahabat, teman dan kenalan Anda. Rekomendasikan juga website KajianSunnahBandung.Web.Id agar semakin banyak orang yang mendapatkan faidah dan kebaikan melalui wasilah Antum. Insya Allah…

Barakallahu fiikum…

Dapatkan kebaikan dengan share artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *