Berkata yang Baik atau Diam

Berkata yang Baik atau Diam…

Itu adalah sepenggal kalimat yang terkandung dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang patut kita dengarkan dan taati.

Berikut adalah redaksi hadits lengkapnya :

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله واليَوْمِ الآخِرِ؛ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaknya berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Apa yang Dimaksud dengan Berkata yang Baik?

Berkata baik adalah :

  • Perkataan yang mengandung kebenaran,

  • Perkataan yang berfaedah dan memberikan manfaat,

  • Perkataan yang bisa menjadi ilmu bagi orang yang mendengarkan,

  • Perkataan yang bisa mengajak orang kepada kebaikan,

  • Perkataan yang bisa menyelamatkan diri sendiri serta orang lain dari kecelakaan dan kerugian,

  • Dan yang paling utama adalah perkataan atau ucapan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya perintahkan.

Ada banyak sekali dalil dalam al-Qur’an maupun hadits yang menjelaskan tentang perkataan-perkataan yang sebaiknya kita ucapkan, antara lain :
 
Allah Ta’ala berfirman,

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

 

وَعَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ بُسْرٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَجُلاً قَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَليَّ ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبْثُ بِهِ قَالَ : (( لاَ يَزالُ لِسَانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ )) . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ : (( حَدِيْثٌ حَسَنٌ )) .

Dari ‘Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat Islam ini telah banyak bagiku, maka beritahulah kepadaku sesuatu yang bisa aku pegang selalu.” Beliau menjawab, “Hendaklah lisanmu selalu basah karena berdzikir kepada Allah.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan) [HR. Tirmidzi, no. 3375. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan].

 

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar.” (QS. Ali Imran: 110).

 
 

Apa yang Dimaksud dengan Perkataan Buruk?

Perkataan buruk adalah kebalikan dari perkataan baik, yakni:

  • Perkataan yang mengandung keburukan, seperti kebohongan, celaan, hinaan, makian, adu domba, fitnah, ghibah, dan lain sebagainya,

  • Perkataan yang tidak bermanfaat dan sia-sia,

  • Perkataan yang bisa menggelincirkan seseorang kepada kerugian.

Ada banyak sekali ancaman yang diterangkan oleh dalil yang shahih, bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menerangkan bahwa ada seorang hamba yang dimasukkan ke dalam neraka, hanya karena lisannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

إن العبد ليتكلم بالكلمة من رضوان الله , لا يلقي لها بالا , يرفعه الله بها درجات , و إن العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله , لا يلقي لها بالا يهوي بها في جهنم

Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Menjaga Lisan Lebih Selamat di Zaman Ini

Zaman sekarang adalah zaman yang penuh dengan fitnah, yang semuanya bisa diumbar seluas-luasnya dengan fasilitas teknologi yang ada. Bahkan tidak sedikit orang yang memanfaatkan karunia dan nikmat tersebut untuk melakukan kejahatan dan penggiringan opini, sehingga masyarakat awam yang tidak memiliki ilmu, akan terbawa oleh pemberitaan yang ada tanpa mengetahui fakta dan kebenarannya.

Betapa banyak kita lihat di sosial media tentang komentar, status, quote, dan kalimat lain yang terlontar seenaknya dari mereka tanpa didasari dengan ilmu dan pengetahuan yang memadai. Sebagian ada yang sekedar ikut-ikutan, ada juga yang terjebak dengan isyu, ada juga yang hanya ikut meramaikan saja tanpa mempertimbangkan apa yang disampaikannya. Padahal dibalik semua itu, terdapat bahaya besar yang mengancam semua perbuatan tersebut, na’udzubillah.

Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menyikapi hal tersebut? Jawabannya adalah dengan DIAM! Karena menjaga lisan akan lebih selamat daripada kita mengatakan sesuatu yang tidak kita ketahui ilmunya.
 

 مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)

 
Setiap ucapan akan kita pertanggungjawabkan. Apabila perkataan itu baik, maka insya Allah akan memberikan kebaikan dan keselamatan untuk kita. Namun apabila sebaliknya, maka kerugian dan kecelakaan yang akan kita dapatkan, karena semua perkataan kita dicatat, dan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.

 

Kategori Perkataan di Zaman Ini

Dalam fakta yang terjadi dalam kehidupan di zaman ini, jangan pernah membatasi perkataan sebagai sesuatu yang keluar dari mulut kita saja. Karena ternyata ada banyak media dan sarana lain yang bisa mewakili hal yang ingin kita katakan, seperti :

  • Chatting di sosial media

  • Status di sosial media

  • Poster-poster yang dipasang di status

  • Artikel dan tulisan-tulisan yang bisa diakses secara online

Kesemuanya itu bisa mewakili perkataan, walaupun disampaikan dengan cara yang berbeda. Namun yang pasti, semua itu akan kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak.

Oleh karenanya, mulailah untuk berhati-hati dan amalkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di atas, yakni, “Berkata yang baik atau diam.

***

Demikian artikel yang bisa kami bagikan pada kesempatan kali ini. Semoga apa yang disampaikan bisa memberikan manfaat bagi diri kami pada khususnya, serta bagi semua orang yang membaca artikel ini.

Do’akan kami agar senantiasa diberikan hidayah dan taufik untuk bisa berbagi ilmu melalui artikel Islam, video singkat, poster nasihat, serta info kajian sunnah Bandung.

Kami berdo’a, semoga kita semua bisa dikaruniakan perkataan yang senantiasa berada dalam kebaikan, sehingga apa yang terucap, terlontar, dan yang keluar daripadanya, bise menjadi hal yang akan menyelamatkan kita, baik di dunia, maupun di akhirat. Aamiin Allahumma Aamiin…

Jangan lupa untuk meneruskan kebaikan ini, cukup dengan membagikan berbagai konten dakwah yang terdapat di website ini, karena bisa jadi melalui perantaaan Antumlah, banyak orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan hidayah untuk mempelajari dan memahami tentang syari’at agama Islam yang lurus dan murni berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, serta pemahaman pada Shahabat, insya Allah.

 

Ditulis di Bandung, 13 Safar 1441 H
Sang Faqir Ilmu

 

Sumber :

  • https://muslim.or.id/6442-bahaya-bicara-agama-tanpa-ilmu.html
  • https://muslimah.or.id/4590-manisnya-buah-menjaga-lisan.html
  • https://rumaysho.com/774-hati-hati-dengan-lisan.html
  • https://rumaysho.com/17146-lisan-selalu-basah-dengan-dzikir.html
  • https://yufid.com/
Dapatkan kebaikan dengan share artikel ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *