Golongan-Golongan Manusia dalam Puasa Bagian 1

Golongan-Golongan Manusia dalam Puasa Bagian 1

Bismillah…

Berbicara tentang golongan manusia yang mengamalkan puasa, maka terbagi menjadi sepuluh golongan, yang insya Allah semuanya akan dibahas ke dalam 3 artikel tentang golongan-golongan manusia dalam puasa.

Pada kesempatan kali ini akan dibahas bagian pertama. Apa sajakah golongan yang dimaksud? Berikut penjelasannya :

#1 : Muslim yang baligh, berakal, bermukim, mampu, dan tidak berhalangan

Wajib bagi yang memenuhi syarat di atas, yakni muslim yang balik, berakal, bermukim (maksudnya tidak sedang safar), serta tidak udzur yang menghalanginya untuk berpuasa. Maka golongan tersebut wajib melakukan puasa pada bulan Ramadhan dan tidak boleh menunda atau mengakhirkannya.

Adapun orang kafir, tidak wajib berpuasa, bahkan puasanya tidak sah. Sekiranya ia masuk Islam pada siang hari bulan Ramadhan, maka ia wajib untuk segera menahan diri hingga terbenamnya matahari, tanpa wajib mengqadha hari itu.

 

#2 : Anak kecil, golongan ini tidak wajib puasa sampai baligh

Walaupun golongan kedua ini belum diwajibkan untuk berpuasa karena belum sampai usia baligh! Akan tetapi, sebaiknya wali anak itu menyuruhnya puasa jika memang mampu sebagai upaya latihan baginya, sehingga ketika sampai usia baligh dia sudah terbiasa berpuasa.

Tanda anak laki-laki mencapai usia baligh adalah keluarnya mani, tumbuhnya rambut di sekitar kemaluan bagian depan, atau telah berusia 15 tahun. Sedangkan tanda untuk anak perempuan ada tambahan tanda keempat yaitu sudah haidh.

 

#3 : Orang gila atau hilang akalnya, dia tidak dikenai kewajiban puasa

Orang gila atau hilang akal tidak terkena kewajiban puasa, karena sebagaimana dijelaskan pada golongan #1, bahwa salah satu yang menjadikan wajibnya puasa adalah orang yang berakal.

Adapun jika gilanya tidak permanen (bersifat sementara), atau sembuh dengan izin Allah Ta’ala sehingga menjadi orang yang berakal, maka ia wajib puasa saat ia sadar.

 

#4 : Orang tua yang telah pikun dan sudah tidak memiliki kemampuan untuk membedakan

Dia tidak wajib puasa dan tidak harus membayar fidyah, karena sudah tidak lagi mukallaf dan hilangnya tamyiz.

 

#5 : Orang yang tidak mampu berpuasa, seperti orang tua dan orang yang penyakitnya tidak bisa disembuhkan

Mereka tidak wajib puasa, namun wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan satu orang miskin sebagai ganti satu hari puasa yang ditinggalkannya.

Hal itu berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala :

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۚ وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدۡيَةٞ طَعَامُ مِسۡكِينٖۖ

…Siapa yang sakit di antara kalian atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (ia wajib mengganti) sejumlah hari yang ia tinggalkan pada hari-hari lain, dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak puasa) membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin.” (al-Baqarah: 184)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan bahwa yang dimaksud adalah orang yang sudah tua yang tidak sanggup lagi berpuasa. Maka sebagai gantinya adalah memberi makan setiap harinya satu orang miskin setengah sha’ (kurang lebih 1,5 kg) dari hinthah (gandum). (HR. ad-Daruquthni dalam Sunan-nya, 2/207 dan disahihkan olehnya)

Jadi, orang yang tidak mampu berpuasa karena usia lanjut tetap berkewajiban mengganti jumlah puasa yang ditinggalkannya dengan membayar fidyah kepada orang miskin. Adapun penjelasan tentang fidyah insya Allah akan disampaikan kemudian.

Adapun bagi orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, maka terdapat keterangan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma :

…Tidak diberi keringanan dalam masalah ini (tidak puasa lalu membayar fidyah) kecuali yang tidak mampu berpuasa atau orang sakit yang tidak sembuh.” (HR. ath-Thabari dalam tafsirnya 2/138, an-Nasa’i, 1/318—319, dan al-Albani rahimahullah berkata sanadnya shahih)

Pembayaran fidyah boleh dilakukan secara terpisah, boleh juga dilakukan dengan cara membuat suatu hidangan, lalu mengundang orang-orang miskin sejumlah hari yang ditinggalkan untuk memakan hidangan tadi hingga kenyang.

Syariat ditegakkan atas dasar kemudahan, rahmat, kekokohan, dan hikmah. Allah Ta’ala telah mewajibkan setiap mukallaf untuk menjalankan syariat sesuai dengan kondisinya, agar semuanya mampu melaksanakannya dengan dada yang lapang, jiwa yang tenang, dan penuh keridhaan.

Allah Ta’ala berfirman :

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185)

 

Sumber tambahan :

News

•═◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═•
📖 Disarikan oleh Ustadz Rian Abu Rabbany dari kitab Majalisu Syahri Ramadhan karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah
•═◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═•

***

Demikianlah artikel yang membahas tentang golongan-golongan manusia dalam puasa bagian 1. Nantikan lanjutan pembahasan ini pada bagian ke-2 dan ke-3, insya Allah.

Semoga Allah senantiasa membimbing dan menunjukkan kita kepada kebenaran, serta memberikan taufik kepada kita untuk mengetahui ilmu tentang syari’at agama Islam untuk kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bisa menghadirkan keberkahan dan kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, aamiin ya Rabbal ‘alamin…

Dapatkan berbagai informasi lainnya mengenai artikel islami, poster nasihat, info kajian sunnah Bandung serta kesempatan untuk melakukan tanya jawab di grup WA Kajian Sunnah Bandung.

Dapatkan kebaikan dengan share artikel ini kepada keluarga, sahabat, teman dan kenalan Anda. Rekomendasikan juga website KajianSunnahBandung.Web.Id agar semakin banyak orang yang mendapatkan faidah dan kebaikan melalui wasilah Antum. Insya Allah…

Barakallahu fiikum..

 

Dapatkan kebaikan dengan share artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *