Hukum Memanfaatkan Barang Gadai (Rahn)

Hukum Memanfaatkan Barang Gadai (Rahn)

Transaksi Riba di sekitar Kita
(Riba Utang-Piutang)

Bismillah…

Di antara contoh transaksi riba utang piutang adalah memanfaatkan Barang Gadai (Rahn).

Orang yang berutang dengan barang jaminan disebut rahin, sementara yang menerima jaminan disebut murtahin. Transaksi gadai merupakan akad tautsiqat, yaitu akad yang tujuannya memberikan jaminan kepercayaan kepada pelaku akad. Maka gadai bisa mengiringi transaksi komersil (muawwadhat) seperti utang piutang atau transaksi non-komersil (tabarru’at) seperti jual beli, bahkan dalam akad musyarakah (kerjasama).

Mengingat tujuannya untuk jaminan kepercayaan, akad gadai tidak berkonsekuensi pindahnya kepemilikan barang gadai, maka konsekuensi dari hal ini adalah :

  1. Barang gadai statusnya amanah bagi murtahin

  2. Barang gadai tetap menjadi milik rahin (yang berutang)

  3. jika terjadi kegagalan, misalnya utang bermasalah atau transaksi yang dijamin bermasalah, barang gadai tidak otomatis pindah kepemilikan.

  4. Semua biaya perawatan barang gadai, ditanggung oleh rahin (yang berutang), karena ini memang miliknya.

Ketika murtahin (orang yang menerima jaminan) memanfaatkan barang gadai, berarti dia memanfaatkan barang milik rahin, karena transaksi utang antar mereka. Sementara mengambil manfaat (keuntungan) dari utang yang diberikan, termasuk riba sebagaimana disebutkan dalam kaidah :

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

“Setiap utang yang memberikan keuntungan, maka (keuntungan) itu adalah riba.”

Kaidah ini tidak shahih jika dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, namun para ulama sepakat bahwa maknanya benar dan diamalkan. Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan :

الحديث المذكور ضعيف عن أهل العلم، ليس بصحيح، ولكن معناه صحيح عن العلماء معناه، أن القروض التي تجر نفعاً ممنوعة بالإجماع

“Hadits ini lemah menurut para ulama, tidak shahih. Namun maknanya benar menurut mereka, yaitu bahwasanya hutang yang mendatangkan manfaat maka itu terlarang berdasarkan kesepakatan para ulama.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi no.463, lihat di : http://www.binbaz.org.sa/noor/2872).

Keuntungan bukan hanya berbentuk materi, termasuk juga keuntungan dalam bentuk pelayanan. Dari Abdullah bin Sallam, beliau mengatakan :

إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقُّ فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ، أَوْ حِمْلَ شَعِيْرٍ، أَوْ حِمْلَ قَتِّ، فَلَا تَأْخُذْهُ، فَإِنَّهُ رِبًا

“Apabila kamu mengutangi orang lain, kemudian orang yang diutangi memberikan fasilitas membawakan jerami, gandum, atau pakan ternak maka janganlah menerimanya, karena itu riba.” (HR. Bukhari 3814)

 

•═◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═•
📖 Disarikan oleh Ustadz Rian Abu Rabbany dari kitab Ada Apa dengan Riba? Karya Ustadz Ammi Nur Baits hafizhahullaah
•═◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═•

***

Demikianlah artikel yang membahas tentang hukum memanfaatkan barang gadai (rahn), yang merupakan salah satu praktek transaksi riba yang sering dijumpai di sekitar kita.

Semoga Allah senantiasa membimbing dan menunjukkan kita kepada kebenaran, serta memberikan taufik kepada kita untuk mengetahui ilmu tentang syari’at agama Islam agar dapat menghindari dan menjauhi perkara-perkara yang Allah Subhanahu wa Ta’ala haramkan

Dapatkan berbagai informasi lainnya mengenai artikel islami, poster nasihat, info kajian sunnah Bandung serta kesempatan untuk melakukan tanya jawab di grup WA Kajian Sunnah Bandung.

Dapatkan kebaikan dengan share artikel ini kepada keluarga, sahabat, teman dan kenalan Anda. Rekomendasikan juga website KajianSunnahBandung.Web.Id agar semakin banyak orang yang mendapatkan faidah dan kebaikan melalui wasilah Antum. Insya Allah…

Barakallahu fiikum…

Dapatkan kebaikan dengan share artikel ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *